Tips Menghindari Alat Panjat Oplosan - (Bagian 1)

Gambar139
[05 Nov 2014]

Peralatan panjat tebing seperti tali (climbing rope), cincin kait (carabiner), alat turun (descender) dan lainnya adalah alat bantu yang penting untuk mengamankan pemanjatan. Kita tentunya tidak ingin alat panjat yang sejatinya membuat kegiatan pemanjatan aman malah menjadi sumber kecelakaan fatal.

Saat ini dipasaran banyak beredar alat panjat dengan kualitas rendah, dan tidak sedikit merupakan barang palsu. Harga barang asli dengan kualitas bagus yang tidak murah menjadi daya pikat bagi pedagang curang untuk meraup keuntungan tanpa memperhatikan konsekuensi yang harus diterima oleh pelaku kegiatan panjat tebing. Ada beberapa modus yang dilakukan para pebisnis curang tersebut, yang paling banyak dilakukan diuraikan sebagai berikut:

  1. Menjual alat panjat oplosan, maksudnya alat panjat asli dicampur dengan yang palsu. Cara bisnis ini dilakukan oleh banyak pedagang penyedia peralatan panjat. Target utamanya adalah para pembeli institusi besar seperti militer, kepolisian, atau perusahaan yang sangat minim pengetahuan akan peralatan yang dikejar tenggat waktu pengadaan barang. Biasanya jumlah barang palsu bisa mencapai 30% dari yang asli, misalnya kita membeli karabiner sejumlah 200 buah, maka patut dicurigai 60 buahnya adalah palsu. Para pedagang curang itu memanfaatkan ketidaktahuan bagian penerima barang atas kualitas barang yang dibelinya yang biasanya hanya dimiliki oleh beberapa orang dalam lembaga atau perusahaan tersebut. Parahnya kepalsuan barang baru diketahui saat terjadinya kegagalan alat yang biasanya diikuti oleh hilangnya nyawa personil.
  2. Menjual alat lewat masa pakai, sejatinya setiap barang yang diproduksi mempunyai masa pakai yang tertentu. Untuk peralatan berbahan kain polyester umurnya jauh lebih pendek dari yang berbahan logam. Masa pakai yang dimaksud disini adalah sejak alat tersebut dibuat, bukan sejak alat itu kita beli, Pembuat alat ada yang mencantumkan masa pakai, namun kebanyakan hanya mencantumkan tanggal produksi. Kita dapat membeli suatu alat setelah 7 (tujuh) tahun numpuk di gudang penjual, artinya masa pakai alat tersebut hanya tersisa 1 (satu) tahun jika oleh pembuat telah ditentukan masa pakai alat adalah 8 (delapan) tahun. Masa pakai suatu alat akan sangat berkurang banyak dari yang ditulis jika intensitas pemakaian alat tersebut sangat tinggi. 
  3. Menjual alat tidak standar, yang ini umum dilakukan oleh toko yang menjual peralatan tanpa merek atau bermerek tapi tidak jelas nama dan standar yang digunakan. Ada beberapa alat menggunakan tanda CE tanpa nomor identifikasi standar nomor berapa yang digunakan. Perlu difahami bahwa tanda CE tidak memberikan jaminan secara teknis suatu alat sesuai untuk digunakan pada suatu kegiatan. Saat ini dipasaran malah ada beberapa merek menggunakan standar tertentu yang meragukan karena sangat sulit bagi orang awam untuk mengecek kevalidan standar yang digunakan oleh merek tersebut (Bersambung).